DYS

4/01/2018

Selamat Paskah!


Pada awalnya, manusia adalah ciptaan yang BAIK dan segambar serta serupa dengan Allah. Maka, segala sesuatu perbuatan baik (taat perintah Allah tanpa curiga) sudah menjadi identitas sejati manusia. Tetapi ketika Adam dan Hawa melanggar perintahNya, dosa menghampiri manusia, akibatnya adalah maut, karena Allah itu baik dan suci sehingga dosa tidak akan tahan dihadapanNya. Inilah yang menjadi warisan dosa, setiap manusia memiliki konsekuensi untuk mati.
Dalam Kekristenan, ketika manusia berbuat baik, perbuatan dosa yang dilakukan tidak akan bisa dihapus. Kenapa? Karena perbuatan baik sudah menjadi identitas sejati manusia sebelum Adam dan Hawa berbuat dosa. Dan tidak ada yang namanya dosa kecil atau dosa besar, salah ya salah. Zaman dulu, untuk menghapus dosa dibutuhkan pengorbanan dua domba yang tidak bercacat, yaitu 1 domba untuk disembelih dan 1 domba untuk dilepas. Maknanya adalah satu untuk pengampunan dan satu untuk penghapusan dosa. Domba sebagai ganti nyawa manusia yang berdosa.
Kenapa harus binatang? Kan mereka gak bersalah? - Itulah poinnya, binatang-binatang tersebut tidak bersalah, tapi mereka mati untuk menggantikan orang yang memberi persembahan. Tapi menjadi kebiasaan jelek, ketika sudah diampuni dan dihapuskan dosanya, manusia masih sering berbuat dosa dan mempersembahkan korban penebusan dosa secara berulang-ulang (sama saja mempermainkan Tuhan!). Karena itulah sejak awal Allah mempersiapkan karya penebusan dosa melalui PribadiNya, yaitu Yesus Kristus, dimana harganya “terlalu sangat mahal sekali pake banget” dibanding manusia membeli domba.
Lalu siapakah Yesus yang harus jadi korban tebus dosa? – Dia sendiri adalah Allah. Loh bukannya Dia hanya manusia? – Gini, segala dosa-dosa manusia dari yang terdahulu sampai akhir zaman nanti ditanggung oleh Yesus, masakan Dia manusia biasa?? Korban tebus dosa haruslah tidak bercacat dosa, sekaliber Daniel saja mengakui dosanya, sekaliber Salomo pun jatuh dalam dosa. Manusia saja yang kakinya kejedot kaki meja pun bisa emosi, gimana mau bisa nanggung dosa yang begitu besarnya? Oleh karena itu, mau tidak mau Allah sendirilah yang harus turun tangan. T.T
Yesus harus menderita, mati, dikuburkan, dan bangkit. Kenapa bangkit? – itu merupakan tanda dan jaminan bagi mereka yang percaya, masih ingat kan dalam korban tebus dosa ada domba yang dilepaskan? Jadi ketika Yesus mati di kayu salib, itu merupakan lambang bahwa kita diampuni. Ketika Yesus bangkit, itu adalah lambang bahwa manusia telah dilepaskan dari dosa, hanya bagi mereka yang percaya.
Emangnya Yesus beneran bangkit? – oke ini merupakan esensi dari iman, tapi, dulu gereja mula-mula dikejar dan dibunuh tanpa melakukan perlawanan, banyak mereka yang jadi martir tetapi tanpa melawan balik, kalau kebangkitan hanyalah bualan belaka, maka kematian beribu-ribu orang sejak awal zaman Romawi (ada banyak catatan sejarahnya, googling aja) hanyalah kesia-siaan belaka dan akan menjadi wabah kegilaan dimana orang-orang rela mati hanya untuk kebohongan iman dalam karya Yesus. Namun, kenyataannya banyak yang menjadi percaya bahkan dari kalangan Romawi sendiri sampai ke belahan dunia lain, bahwa Yesus Kristus bangkit dan telah menebus dosa-dosa manusia. Dan kita yang percaya beroleh keselamatan dan layak untuk disebut anak-anak Allah yang hidup! 
Selamat Paskah! God be with u. J



Share:

2/25/2018

HOSEA DAN KASIH TAK BERSYARAT


“I'm after love that lasts, not more religion. I want you to know GOD, not go to more prayer meetings.” - Hosea 6:6

Hosea, namanya memiliki arti “Keselamatan ada pada Allah”, adalah salah satu dari keduabelas nabi “kecil” di dalam Perjanjian Lama. Sebenarnya menurut penulis, apa yang dilakukan Hosea adalah sesuatu yang begitu besar, karena dia mengerti dan berbuat sesuatu yang menggambarkan sedalam apa sakit hati dan kasih setia Allah.
Pada saat itu, sekitar abad ke-8 SM, Hosea hidup ditengah-tengah Kerajaan Utara (Israel) yang dipimpin oleh Yerobeam bin Yoas (2 Raja-raja 14:23-29), sezaman dengan nabi Yesaya dan Amos. Situasi kerajaan pada zaman Hosea tidak beda dengan situasi raja Israel pertama, Yerobeam bin Nebat, yaitu penyembahan berhala dan adanya bukit-bukit pengorbanan.
Flashback sedikit, Yerobeam bin Nebat membuat dua patung lembu dan menyuruh rakyat Israel menyembah lembu tersebut sebagai allah mereka. Hal ini dilakukan karena Yerobeam khawatir jika rakyat menyembah Allah, dimana Bait Allah berada di Kerajaan Yehuda, maka rakyat dapat berbalik dan membunuh dirinya serta kembali ke Kerajaan Yehuda (1 Raja-raja 12:25-33).
Zaman Yerobeam bin Yoas (raja ke-14 Kerajaan Israel), rakyat Israel masih melakukan kebiasaan tersebut. Namun, TUHAN masih menyayangi Israel dengan mengembalikan daerah Damsyik dan Hamat-Yehuda ke dalam kekuasaan mereka (2 Raja-raja 14:23-29). Namun, inilah yang menjadi salah satu pergumulan nabi Hosea. Dimana tugas Hosea adalah memperingatkan dan mengajak rakyat Israel untuk bertobat, namun di sisi lain TUHAN malah membantu Israel memperoleh kembali Damsyik dan Hamat-Yehuda. Ironi kah?
Jawabannya adalah tidak, karena disinilah Hosea diajarkan mengenai kasih setia Allah. Hosea diberi tugas Allah untuk menikahi Gomer, seorang penyundal, sebagai gambaran bahwa Israel sudah berlaku sundal terhadap berhala. Hosea memperoleh tiga anak, pertama dinamai Yizreel, berarti sedikit waktu lagi maka Allah akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel. Yang kedua adalah Lo-Ruhama, karena TUHAN tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka. Yang ketiga adalah Lo-Ami, karena TUHAN tidak menggangap Israel sebagai umat-Nya lagi.
Lalu hal yang unik pun terjadi, pada Hosea 1:10-12, TUHAN Allah memberikan nubuatan bahwa kaum Israel bersama Yehuda akan dipersatukan dan mereka ini akan dikatakan sebagai “Anak-anak Allah yang hidup.” Di dalam Hosea 11:8, dikatakan bahwa walaupun TUHAN harus menghukum mereka, namun hati belas kasihan-Nya tidak tega untuk melakukannya. Wow… selama 14 keturunan raja mereka bersundal dan menyakiti hati TUHAN, tetapi Allah tetap mau menyayangi mereka!
Balik lagi ke Hosea, tidak dijelaskan secara detail bagaimana kehidupannya selama menikahi Gomer dan tugasnya memberitakan peringatan Allah. Namun dengan perbuatan-perbuatan Israel, kemungkinan besar Hosea mengalami penolakan dan pengucilan. Kenapa? Diketahui bahwa Damsyik dan Hamat-Yehuda menjadi bagian Israel lagi, maka pastinya rakyat Israel akan berkeras dan meninggi hati sehingga melupakan TUHAN (lihat Hosea 13:6). Lalu dengan menikahi seorang wanita sundal, Hosea akan menjadi sasaran empuk bahan olok-olok rakyat Israel. Hosea yang seorang nabi dan taat pada Allah harus menikahi seorang yang sundal, dia yang menyuruh Israel bertobat malah harus hidup dengan Gomer. Beban Hosea pun bertambah ketika si Gomer ternyata malah berlaku curang dan tidur dengan laki-laki lain.
Namun TUHAN menyuruh dia untuk mencintai istrinya lagi dengan membeli Gomer dengan seharga satu orang budak (Hosea 3:1-2 versi The Message). Kemungkinan besar Gomer selingkuh untuk memuaskan duniawinya dimana mungkin Hosea tidak bisa memberikan apa-apa karena tugas utamanya adalah sebagai nabi. Bagaimana bisa Hosea melakukannya lagi? Apakah terpaksa? Sepertinya tidak, karena Hosea mencintai istrinya, inilah kasih tak bersyarat. Hosea yang tadinya mencintai istrinya, pasti sakit hati karena dicurangi, inilah gambaran dari hati Allah untuk Israel. Kemudian ketika Allah menyuruh Hosea mencintai istrinya lagi, Hosea harus membelinya dengan harga mahal bagi seorang nabi seperti Hosea, ini juga merupakan gambaran Allah bahwa Ia akan tetap mengasihi dan menyelamatkan Israel, bahkan Yehuda, dari perbudakan dosa dengan membayar harga mahal (menurut penulis adalah gambaran tentang penyelamatan melalui Yesus Kristus).
Dengan demikian, Hosea adalah nabi yang mengerti bagaimana gemas dan sakitnya hati Allah karena Israel. Namun, Hosea juga yang mengerti bagaimana kasih setia Allah yang mau menghapuskan dosa Israel asalkan mereka mau bertobat seperti halnya dia menyuruh Gomer untuk tidak bersundal kembali. Asalkan mereka bertobat, Allah mau memulihkan dan mengasihi mereka dengan sukarela (Hosea 14:5). Disinilah Hosea mengenal baik hati Allah. Semoga memberkati! GBU.

 Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ. -Hosea 14:10

Share: