Pada awalnya, manusia adalah ciptaan
yang BAIK dan segambar serta serupa dengan Allah. Maka, segala sesuatu
perbuatan baik (taat perintah Allah tanpa curiga) sudah menjadi identitas
sejati manusia. Tetapi ketika Adam dan Hawa melanggar perintahNya, dosa
menghampiri manusia, akibatnya adalah maut, karena Allah itu baik dan suci
sehingga dosa tidak akan tahan dihadapanNya. Inilah yang menjadi warisan dosa,
setiap manusia memiliki konsekuensi untuk mati.
Dalam Kekristenan, ketika manusia
berbuat baik, perbuatan dosa yang dilakukan tidak akan bisa dihapus. Kenapa?
Karena perbuatan baik sudah menjadi identitas sejati manusia sebelum Adam dan
Hawa berbuat dosa. Dan tidak ada yang namanya dosa kecil atau dosa besar, salah
ya salah. Zaman dulu, untuk menghapus dosa dibutuhkan pengorbanan dua domba
yang tidak bercacat, yaitu 1 domba untuk disembelih dan 1 domba untuk dilepas.
Maknanya adalah satu untuk pengampunan dan satu untuk penghapusan dosa. Domba
sebagai ganti nyawa manusia yang berdosa.
Kenapa harus binatang? Kan mereka
gak bersalah? - Itulah poinnya, binatang-binatang tersebut tidak bersalah, tapi
mereka mati untuk menggantikan orang yang memberi persembahan. Tapi menjadi
kebiasaan jelek, ketika sudah diampuni dan dihapuskan dosanya, manusia masih sering
berbuat dosa dan mempersembahkan korban penebusan dosa secara berulang-ulang
(sama saja mempermainkan Tuhan!). Karena itulah sejak awal Allah mempersiapkan
karya penebusan dosa melalui PribadiNya, yaitu Yesus Kristus, dimana harganya “terlalu
sangat mahal sekali pake banget” dibanding manusia membeli domba.
Lalu siapakah Yesus yang harus jadi
korban tebus dosa? – Dia sendiri adalah Allah. Loh bukannya Dia hanya manusia?
– Gini, segala dosa-dosa manusia dari yang terdahulu sampai akhir zaman nanti
ditanggung oleh Yesus, masakan Dia manusia biasa?? Korban tebus dosa haruslah
tidak bercacat dosa, sekaliber Daniel saja mengakui dosanya, sekaliber Salomo
pun jatuh dalam dosa. Manusia saja yang kakinya kejedot kaki meja pun bisa
emosi, gimana mau bisa nanggung dosa yang begitu besarnya? Oleh karena itu, mau
tidak mau Allah sendirilah yang harus turun tangan. T.T
Yesus harus menderita, mati,
dikuburkan, dan bangkit. Kenapa bangkit? – itu merupakan tanda dan jaminan bagi
mereka yang percaya, masih ingat kan dalam korban tebus dosa ada domba yang
dilepaskan? Jadi ketika Yesus mati di kayu salib, itu merupakan lambang bahwa
kita diampuni. Ketika Yesus bangkit, itu adalah lambang bahwa manusia telah
dilepaskan dari dosa, hanya bagi mereka yang percaya.
Emangnya Yesus beneran bangkit? –
oke ini merupakan esensi dari iman, tapi, dulu gereja mula-mula dikejar dan
dibunuh tanpa melakukan perlawanan, banyak mereka yang jadi martir tetapi tanpa
melawan balik, kalau kebangkitan hanyalah bualan belaka, maka kematian beribu-ribu
orang sejak awal zaman Romawi (ada banyak catatan sejarahnya, googling aja)
hanyalah kesia-siaan belaka dan akan menjadi wabah kegilaan dimana orang-orang
rela mati hanya untuk kebohongan iman dalam karya Yesus. Namun, kenyataannya
banyak yang menjadi percaya bahkan dari kalangan Romawi sendiri sampai ke
belahan dunia lain, bahwa Yesus Kristus bangkit dan telah menebus dosa-dosa
manusia. Dan kita yang percaya beroleh keselamatan dan layak untuk disebut
anak-anak Allah yang hidup!
Selamat Paskah! God be with u. J
